​7 JENIS PERSAHABATAN, HANYA 1 SAMPAI AKHIRAT ::

1. TA’ARUFFAN

Persahabatan yang terjalin secara kebetulan, seperti pernah bertemu di stesyen kereta api, hotel, hospital,pejabat pos, ATM, dan lainnya.

2. TAARIIHAN

Persahabatan yang terjalin kerana faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu kelas, satu sekolah,

satu asrama, dan sebagainya.

3. AHAMMIYYATAN

Persahabatan yang terjalin karana faktor kepentingan tertentu seperti rakan bisnes, politik dan sebagainya.

4. FAARIHAN

Persahabatan yang terjalin kerana faktor hobi, seperti teman futsal, badminton, memancing, dan sebagainya.

5. AMALAN

Persahabatan yang terjalin kerana kerjaya, misalnya sama-sama guru, doktor, arkitek dan sebagainya.

6. ADUWWAN

Sahabat tetapi musuh, depan kita bukan main dia baik lagi tapi bila belakang kita…Allah! Pijak semut pun tak mati! Talam dua muka. Seperti firman Allah SWT :

“Kalau kamu mendapat kebaikan atau kesenangan, ia menyakitkan hati mereka, bila kamu ditimpa musibah,

mereka senang hati…”

(Surah Ali Imran : 120)

Rasulullah SAW mengajarkan doa :

“Allahumma Ya Allah… selamatkanlah aku dari sahabat yang bila melihat kebaikanku dia bersembunyi

tetapi bila dia melihat keburukanku dia sebarkan.”

7. HUBBAN LIMAANAN

Sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, tulus saling cinta dan sayang kerana ALLAH Azza wa jalla,

saling menolong, menasihati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya. Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya kerana

Allah Ta’ala.

Dari 7 macam persahabatan di atas, 1 – 6 akan LENYAP di Akhirat. Yang tinggal hanya 1 ikatan

persahabatan iaitu persahabatan yang ke-7.Persahabatan yang terjalin kerana Allah Taala seperti

firman Allah SWT : 

“Pada hari itu (Kiamat) sahabat-sahabat karib akan menjadi musuh bagi yang lain

kecuali persahabatan kerana ketaqwaan”

(Surah Az-Zukhruf :67).

Sebuah Kota Indah Dipinggir Sungai Nil

Seorang Syekh yang bijak dan alim lagi berjalan-jalan santai bersama salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah taman…

Di tengah-tengah asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang lagi lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera menyelesaikan pekerjaannya.

Sang murid melihat kepada syekhnya sambil berujar:

“Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pohon-pohon? Nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangannya. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas!”

Syekh yang alim dan bijak itu menjawab:

“Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang kamu coba memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu”.

Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia langsung saja berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama gurunya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun.

Tidak beberapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas-ngibaskan kotoran dari pakaiannya. Dia menuju tempat sepatunya ia tinggalkan sebelum bekerja. Ketika ia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu di dalamnya. Saat ia keluarkan ternyata…….uang. Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah-olah ia tidak percaya dengan penglihatannya.

Setelah ia memutar pandangannya ke segala penjuru ia tidak melihat seorangpun. Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu ia berlutut sambil melihat ke langit dan menangis. Dia berteriak dengan suara tinggi, seolah-olah ia bicara kepada Allah ar rozzaq :

“Aku bersyukur kepada-Mu wahai Robbku. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelaparan. Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anak dan istriku dari celaka”.

Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah. Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung.

Ketika itu Syekh yang bijak tersebut memasukkan pelajaran kepada muridnya :

“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

Sang murid menjawab:

“Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku: “Ketika kamu memberi kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak dari pada kamu mengambil”.

Sang guru melanjutkan pelajarannya.
Dan sekarang ketahuilah bahwa pemberian itu bermacam-macam :

• Memaafkan kesalahan orang di saat mampu melakukan balas dendam adalah suatu pemberian.

• Mendo’akan temanmu muslim di belakangnya (tanpa sepengatahuannya) itu adalah suatu pemberian.

• Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk darinya juga suatu pemberian.

• Menahan diri dari membicarakan aib saudaramu di belakangnya adalah pemberian lagi.

Ini semua adalah pemberian, supaya kesempatan memberi tidak dimonopoli oleh orang-orang kaya saja. jadikanlah semua ini pelajaran.


🗨Bashirah💌“TANDA MATA HATI YG BUTA”


اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَ تـَقْصِيْرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَ لِيلٌ عَلَى انـــْطِمَاسِ الْــبَصِيْرةِ مِنْكَ

“Kesungguhanmu pada apa-apa yang telah Dia Ta’ala jamin bagimu, dan kelalaianmu pada apa-apa yang Dia Ta’ala tuntut darimu, merupakan bukti atas lenyapnya bashirah darimu!”

 

Syarah

Bashirah adalah istilah teknis agama untuk “mata hati” yang memiliki fungsi spesifik. Di dalam Al-Quran terdapat banyak kata tentang “bashirah”, misalkan dalam Surah Al-Israa’ [17]: 72 dikatakan, “Dan barangsiapa yang buta (a’maa) di dunia, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta dan lebih tersesat jalannya”. Atau dalam ayat lain disebutkan:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci-mati qalb-qalb mereka dan telinga-telinga mereka, dan bashirah-basirah mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. —Q.S. Al-Baqarah [2]: 6

 

Meski seseorang bisa melihat hingga ke ujung dunia atau dapat menembus langit yang tujuh, namun bila masih bingung dengan kehidupan, maka itu sebuah penanda bahwa bashirah kita masih tertutup.

Karena bashirah itu bukan untuk melihat hal-hal di luar diri, tetapi untuk melihat kebenaran hakikat. Bashirah adalah untuk melihat Al-Haqq dalam segala sesuatu, dalam segenap ufuk dan dalam dirinya. Sebagaimana firman-Nya:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk dan pada nafs-nafs mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa semua itu adalah Al-Haqq. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? —Q.S. Fushshilat [41]: 53

 

Siapa saja yang disibukkan mencari apa yang sudah dijamin Alloh seperti rizki, dan meninggalkan apa yang menjadi perintah Alloh, itulah tanda orang yang buta hatinya.

 

Firman Alloh: “Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak [dapat] membawa [mengurus] rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha mendengar, Maha mengetahui.”[QS. al-Ankabuut 60].

 

Firman Alloh: “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat [yang baik di akhirat] adalah bagi orang yang bertakwa.” [QS. Thaha 132].

 

Kerjakan apa yang menjadi kewajibanmu terhadap Kami, dan Kami melengkapi bagimu bagian Kamu.

Di sini ada dua perkara :

1. Yang dijamin oleh Alloh, maka jangan menuduh atau berburuk sangka kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.

2.Yang dituntut [menjadi kewajiban bagimu] kepada Allah, maka jangan abaikan.

 

Dalam sebuah hadits Qudsy yang kurang lebih artinya: “Hambaku, taatilah semua perintah-Ku, dan jangan memberi tahu kepada-Ku apa yang baik bagimu, [jangan mengajari kepada-Ku apa yang menjadi kebutuhanmu].

 

  Syeih Ibrahim al-Khawwas berkata: “Jangan memaksa diri untuk mencapai apa yang telah dijamin dan jangan menyia-nyiakan [mengabaikan] apa yang diamanatkan kepadamu.” Oleh sebab itu, barangsiapa yang berusaha untuk mencapai apa yang sudah dijamin dan mengabaikan apa yang menjadi tugas dan kewajiban kepadanya, maka buta mata hatinya dan sangat bodoh.

BANYAK MANUSIA LEBIH TAKUT MISKIN DARI PADA NERAKA

Ada berbagai aktivitas yang dilakukan manusia setiap harinya. Waktu demi waktu telah dilalui manusia dengan diisi berbagai aktivitas baik aktivitas positif maupun aktivitas negatif. Dari segala aktivitas manusia sehari-hari dapat kita perhatikan bahwa disekitar kita banyak manusia yang terus menerus melakukan hal konyol dan bodoh dan mereka seperti sama sekali tidak menyadarinya, bahkan bisa jadi anda saat ini termasuk mereka yang melakukan hal-hal konyol tersebut. Hal konyol yang banyak mausia terperangkap adalah:

“BANYAK MANUSIA LEBIH TAKUT MISKIN DARI PADA TAKUT NERAKA”


Hal ini konyol, seharusnya tidak ada yang lebih menakutkan dari pada neraka. Jika ditanya kepada manusia yang mengaku beriman, mereka berkata ‘tentu saja kami labih takut neraka dari pada miskin’ namun kenyataannya di antara mereka benar-benar lebih takut miskin dari pada neraka. Mereka berbuat konyol tapi tidak menyadarinya.
Perhatikan lingkungan sekitar anda, bukankah banyak manusia yang rela melakukan hal haram demi mendapatkan uang. Banyak manusia yang menjadi pengedar narkoba, penjual minuman keras, pezina (pelacur), dan pekerjaan haram lainnya. Mereka rela berjalan menuju neraka demi mendapatkan uang. Bukankah ini artinya mereka lebih takut miskin dari pada takut neraka.
Selain golongan manusia dengan pekerjaan haram, ada juga segolongan manusia yang lalai dan mengabaikan kewajibannya kepada Allah SWT karena uang. Ada yang sholatnya “bolong-bolong” dengan alasan pekerjaan, bahkan ada yang tidak sholat sama sekali kecuali sholat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha dengan alasan yang sama yaitu pekerjaan. Ada juga yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena alasan pekerjaan, pada hal mereka mampu berpuasa. Mengabaikan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT adalah dosa. Enggan melakukan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dapat mengantarkan seseorang masuk ke dalam neraka. Ini artinya, demi uang manusia tersebut mengabaikan ancaman neraka, manusia tersebut juga termasuk manusia yang lebih takut miskin dari pada neraka.
Perhatikan ayat berikut ini :

Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (QS. Al Israa’ : 18)

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. (QS. Al Qamar : 47)

Kedua ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa bagi manusia yang lebih menghendaki kenikmatan duniawi saja dan melakukan banyak dosa maka Allah SWT mengancamnya dengan neraka dan kesesatan di dunia.
Hadits riwayat imam Al-Hakim dari Ma’qal bin Yasar Radhiallaahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tuhan kalian berkata, ‘Wahai anak Adam, beribadah-lah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku, sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tangamu dengan kesibukan.


Dalam Hadits Qudsi tersebut, dijelaskan bahwa jika kita sepenuhnya beribadah kepada Allah SWT maka Allah SWT akan memenuhi kebutuhan kita dan melapangkan rezki kita, sebaliknya jika kita menyibukkan diri dengan mengejar duniawi maka SWT Allah akan membuat hati kita selalu merasa kurang dan dibuat semakin sibuk dengan kesibukan duniawi. Coba anda perhatikan para koruptor, mereka yang melakukan korupsi justru mereka yang memiliki jabatan tinggi dan gaji yang besar. Ternyata mereka masih saja merasa kurang.

Sebagai pelengkap, perhatikan ayat berikut ini :

Artinya : Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. Al Baqarah : 212)

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT menjadikan dunia itu terlihat indah, sehingga banyak diantara manusia yang mengukur kesuksesan manusia dari hartanya. Semakin kaya maka semakin dihormati, sebaliknya, banyak manusia yang memandang hina kepada orang miskin. Padahal, derajat manusia di sisi Allah SWT diukur dari ketaqwaannya bukan harta bendanya.

Adakah orang yang kaya dilaknat Allah SWT?

Ada.

Fir’aun, Qarun, Namrud, dll mereka adalah orang-orang kaya namun dilaknat oleh Allah SWT dunia dan akhirat. Sebagai tambahan perhatikan ayat berikut 😐

Artinya : Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka[907], sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap di pandang mata. (QS. Maryam : 74)

Keterangan angka :

[907]. Maksudnya: umat-umat yang mengingkari Allah seperti kaum ‘Aad dan Tsamud.

Banyak manusia yang memiliki harta berlebih tapi di azab oleh Allah SWT. Kelimpahan harta sama sekali tidak menjamin kebahagiaan baik di dunia dan akhirat. Kembalikan akan sehat anda, janganlah terus menerus berbuat konyol, janganlah lebih takut miskin dari pada neraka. Jangan mengira bahwa neraka adalah dongeng belaka, neraka adalah janji Allah SWT untuk mereka yang pantas memasukinya, dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah SWT.

Janganlah silau dengan kenikmatan duniawi. Mari sibukkan diri kita untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT. Bekerjalah dalam pekerjaan yang halal. Kerjakanlah perintah-perintah Allah SWT, dan jangan lakukan apa saja yang dilarang Allah SWT.

Takutlah dengan neraka, karena neraka bukanlah DONGENG, dan jangalah takut miskin, karena tidak takut miskin bukan berarti anda akan miskin

💌 PENCARI YANG LELAH

​Sedikit renungan semoga bermanfaat
💌 PENCARI YANG LELAH
      

Ada seorang pencari yang berkawan dengan 3 orang pencuri , sangking terlalu akrabnya mereka bersahabat dengan baik, hingga suatu hari salah satu pencuri meminta bantuan kepada pencari tersebut , ” bisakah kau pergi bersamaku ke sebuah tepi pantai ? 

Dan pencari ini pun mengiyakan ajakannya,

Setelah kembali dari pantai, si pencari bertemu lagi dengan pencuri yang kedua,

Pencuri tersebut mengajaknya untuk menemaninya makan bersama, pencari pun tak menolak dan segera pergi bersama pencuri, namun setelah mereka selesai makan datanglah pencuri ke 3 dan mengajak si pencari bercakap cakap, dan pencari ini pun mengiyakan tanpa bertanya lagi padanya, namun di saat yang sama pencari bertemu dengan ayahnya dan ayahnya meminta agar tidak pergi dulu sebelum menemaninya berjalan jalan di belakang rumah, tetapi si pencarinya akhirnya membantah dan berkata ” nanti dulu,” sang ayah pun akhirnya mengalah dan membiarkannya pergi, namun saat mereka berdua selesai bercakap-cakap si pencari mengadu lelah yang luar biasa  pada sang ayah, tetapi ayahnya hanya tersenyum pada nya,

Lalu si pencari bertanya pada sang ayah,

“Wahai ayah kenapa aku berkata lelah kau hanya tersenyum?”

Sang ayah kembali bertanya,” kenapa kau bisa lelah anakku , padahal kau melakukan sesuatu yang kau senangi seharian ini!”

Si pencari menjawab, ” ya aku mengerti aku menuruti semua yang sahabatku minta dan aku berusaha membuat mereka bahagia tanpa memikirkan setelah nya ayah,” 

Sang ayah menepuk halus bahu anak lelakinya dan berkata , ” nak, dengarlah aku sebenarnya melihat kelelahan dalam dirimu, karena itu ku pinta engkau untuk tak pergi dengan sahabatmu, namun kau membantahku, kau mendahulukan sahabat yang kau anggap kau penting baginya, tetapi hingga kelelahan mu mereka pun tak mau mengerti, ”

Sang anak bertanya ” lalu aku harus bagaimana ayah?”

Sang ayah memberi gambaran kecil padanya, ” begini jika kau memiliki 3 orang sahabat, dan ketiganya meminta bantuan yang baik tentunya dari engkau, dan engkau di minta Guru mu untuk menemaninya duduk, mana yang hendak kau dahulukan? Dan bila kau menuruti gurumu itulah yang di sebut kepatuhan,

Dan ilmu akan kau dapati meski hanya sekedar duduk, dan bila kau membantahnya maka jangan menyesali ilmu yang menjauh darimu,”

Dan sang ayah pun meninggalkan si pencari sendirian untuk merenungi kelelahannya,❣

Perbedaan Hijab Niqab Burqa💌

Bagi perempuan muslim dunia, beberapa telah memilih untuk menutup aurat dengan jilbab. Jilbab diartikan sebagai tanda kerendahan hati dan simbol keimanan. Cara mengenakannya pun berbeda-beda. Banyak di antaranya menyebut hal tersebut dengan istilah hijab, niqab dan burka. Lalu tahukah kamu kapan hal tersebut disebut hijab, niqab atau burka?

Kata hijab berarti menutupi dan sering digunakan untuk menggambarkan jilbab yang dikenakan untuk wanita muslim. Varian dari syal/hijab pun banyak ragamnya. Hijab merupakan cara menutup aurat dengan menutupi kepala dan leher tetapi wajah tetap tampak.

Hijab

Kalau niqab adalah jilbab yang menutupi kepala, leher dan muka namun tetap memperlihatkan mata. Biasanya penutup mukanya terpisah dengan jilbab yang dikenakan.

Sedangkan burka merupakan jilbab yang menutupi kepala, leher dan mata, sehingga tidak ada bagian tubuh yang tampak. Biasanya pada bagian mata terdapat kain yang memiliki lubang kecil untuk melihat.

Niqab

Selain hijab, niqab dan burka, sebenarnya ada juga bentuk jilbab  yang disebut Al-amira, Khimar dan Chador.

Almira menggunakan dua potong jilbab. Terdiri dari penutup kepala yang seperti topi dan syal. Khimar adalah jilbab panjang yang menggantung hanya sebatas pinggang. Biasanya menutupi rambut, leher dan bahu, namun wajah masih terlihat dengan jelas.

Burka

Kalau chador merupakan jubah yang menutupi keseluruhan tubuh, umumnya yang menggunakan jilbab jenis chador adalah perempuan Iran.

Nah, gimana? sudah tahu kan perbedaan dari variasi jilbab tersebut? Habis ini udah gak salah sebut ya tentang model jilbab yang kamu gunakan.

Khimar



Wasiat Menutup Aurat

Wasiat Menutup Aurat

Sesungguhnya syaithan dan bala tentaranya senantiasa berusaha untuk menyesatkan hamba-hamba Allah agar terjerumus ke dalam jurang neraka. Iblis yang merupakan syaithan dari bangsa jin telah bersumpah dihadapan Allah ‘azza wajalla akan menyesatkan seluruh manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengenai perkataan dan sumpah Iblis tersebut,

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,”” (Qs. Shaad : 82)

Sumpah yang telah diucapkan oleh Iblis tersebut, kemudian benar-benar di realisasikannya. Maka iblis pun dengan segenap kesungguhannya dan juga bala tentaranya berusaha untuk menyesatkan umat manusia, khususnya umat Islam dari jalan kebenaran. Diantara caranya yaitu, iblis berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggoda manusia agar aurat mereka terbuka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di sur
ga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-A’raaf : 19)


Akan tetapi Iblis la’natullah berusaha menggoda Adam ‘alaihis salam dan istrinya supaya Adam memakan buah tersebut. Yang hasilnya adalah aurat mereka pun terbuka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).” (Qs. Al-A’raaf : 20)

Itulah salah satu tipu daya iblis la’natullah untuk menjerumuskan manusia dari dulu kala, yaitu bapaknya anak manusia. Bahkan sampai detik ini pun, Iblis terus berusaha agar anak Adam membuka auratnya. Kenapa demikian? Karena kita sadari betul, betapa besar akibat buruk dari membuka aurat, terutama dari kalangan wanita. Maka dari itulah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwasanya kehancuran orang-orang ahlul kitab yaitu Yahudi, tidak lain karena fitnah wanita. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,


َاتَّقُوا الدُّنيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah pada kaum wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah karena wanita.” [1]

Oleh karena itu saudariku, orang-orang Yahudi yang telah rusak moralnya dengan sebab wanita, mereka akan terus berupaya mengeluarkan para wanita dalam keadaan memperlihatkan kecantikan dan aurat mereka, dengan Miss Universalnya atau yang lainnya. Yang ternyata ini pun di ikuti oleh para muslima, sehingga menimbulkan kerusakan akhlak, moralitas, memperburuk citra islam, dan sedikitnya rasa malu dari wanita tersebut. Semua ini juga tidak lain agar tersebar syahwat dan berakibat dapat menghancurkan para pemuda muslim. Sehingga pada waktu itu, banyak pemuda kaum muslimin yang kemudian lupa kepada Allah, lupa kepada kehidupan akhirat, bahkan lupa untuk memperjuangkan agamanya.

Banyaknya pakaian-pakaian yang mempertontonkan aurat, dianggap sebagai sesuatu yang modern. Kita lihat di media televisi maupun media yang lainnya, banyak acara yang memajang aurat-aurat. Mereka menganggap bahwa inilah masyarakat modern. Bahwa inilah kemajuan. Bahkan mereka menganggap bahwasanya jilbab dan menutup aurat itu adalah suatu kemunduran.

Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun telah mengabarkan tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Bahwasanya akan muncul wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” [2]

Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ,

Makna pertama : wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua : wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga : wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, dan sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud denga wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat : wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. [3]

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ada tiga :

Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.

Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.

Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. [4]

Kesimpulannya adalah كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga tampaklah tubuh yang ada di dalam pakaian tersebut dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup. Dan juga para wanita yang menutup auratnya, tapi dengan pakaian yang ketat, sehingga tampaklah lekuk tubuhnya. Wal iyyadzubillaah…

Hadits diatas juga merupakan tanda mukjizat kenabian. Lihatlah dan buktikan! Bahwasanya kedua golongan ini sudah ada di zaman kita sekarang. Hadits ini sangat mencela dua golongan tersebut. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup. [5]

Dan sekarang kita lihat fenomena yang menyedihkan ini. Dimana wanita sangat bangga memperlihatkan aurat-aurat mereka. Meraka tidak perduli dan mereka pun tidak malu. Mereka tidak malu kepada Allah dan mereka tidak malu kepada manusia. Bahkan rasa malu itu pun akhirnya telah dicabut oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal wanita seharusnya lebih pemalu ketimbang lelaki. Namun kita dapati sekarang, bahwa wanita lebih berani dan agresif ketimbang lelaki, maka dampaknya mereka berbuat “semau gue”. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” [6]

Sebagian ulama menafsirkan hadirts diatas, bahwa perintah Rasulullah tersebut, perintah yang sifatnya adalah penghinaan, bukan perintah agar di lakukan. Artinya bahwa orang yang tidak punya malu maka dia akan berbuat “semau gue”.

Ini lah musibah yang besar dan fitnah yang bergelombang yang datang dan menerpa kita dengan munculnya wanita-wanita yang enggan menutup auratnya. Wanita yang berpakaian tapi telanjang, bahkan berbangga, sehingga akhirnya memfitnah para pemuda dalam meniti jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Saudariku muslimah…

Ketahuilah, setiap muslim yang ada didalam hatinya keimanan dan kecemburuan terhadap agamanya, ia tidak akan ridha dengan keadaan seperti ini. Maka ia pun berusaha dan berfikir, bagaimana caranya agar anaknya, tetangganya, saudaranya dapat menutup aurat. Hal ini agar mereka di ridhai oleh Allah dan terhindar dari adzab Allah. Karena apabila wanita telah memperlihatkan auratnya, maka para pemuda pun mengikuti syahwatnya, kemudian akhirnya tersebarlah zina. Dan dengan zina itulah kemudian tersebar bencana. Berbagai macam bencana dan malapetaka terus datang akibat perbuatan-perbuatan buruk dan keji, salah satunya adalah perbuatan tidak menutup aurat.

Saudariku muslimah…

Dimanakah lagi keimanan? Dimanakah lagi kecemburuan? Dimanakah lagi marah karena Allah dan benci karena Allah? Seakan-akan keimanan itu telah pudar dari hati-hati para hambaNya. Ataukah kehidupan dunia telah menghiasi dan mendominasi mereka? Sehingga ia lupa kepada Allah rabbul ‘alamin. Ingatlah kisah nabi Adam ‘alaihis salam ketika Allah usir dari surga dan Allah turunkan dari surga karena memakan buah yang dilarang untuk di makan. Maka akibatnya terbuka aurat mereka.

Dan kita lihat fenomena yang ada sekarang. Banyak hamba-hamba yang tidak lagi perduli terhadap anaknya yang mempertontonkan aurat mereka. Banyak hamba-hamba yang tidak perduli lagi terhadap istrinya yang memperlihatkan aurat mereka. Tidakkah mereka tahu dan sadar? Bahwasanya seorang suami yang tidak mempunyai rasa kecemburuan, ia termasuk dayyuts [7].

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts, yaitu kepala rumah tangga membiarkan kemungkaran dalam rumah tangganya.” [8]

Ketahuilah dan sadarilah! Sesungguhnya wanita adalah parameter baiknya suatu bangsa. Baiknya wanita adalah tanda kebaikan suatu bangsa. Dan hancurnya wanita adalah merupakan kehancuran suatu bangsa. Maka apabila wanita itu mempertontonkan auratnya dan apabila wanita itu sudah dicabut rasa malunya, pertanda bangsa itu akan hancur dan binasa. Kenapa? Karena di rahim wanitalah anak bangsa dikandung. Kemudian dari payudaranya lah mengalir makanan untuk menyambung hidup anak tersebut. Dengan kasih sayangnya lah mereka mulai hari-harinya. Wanitalah guru pertama dan utama bagi mereka. Maka apa jadinya kalau mereka hidup dibawah asuhan dan pendidikan wanita yang tidak punya rasa malu, dan senantiasa mempertontonkan auratnya kepada orang-orang yang bukan mahramnya, tentu saja mereka tidak akan jauh dari induknya. Padahal seluruh anak adam yang lahir ke dunia adalah suci. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak yang dilahirkan, dilahirkan di atas fitrah (islam). Kedua ibu bapaknyalah yang menjadikan dia sebagai Yahudi atau Nashrani atau Majusi.”[9]

Saudariku muslimah…

Marilah kita mencontoh para shahabiyah. Betapa ketundukan mereka kepada Allah yang sangat luar biasa. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat hijab, dan ketika Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan jilbab, mereka segera mengambil tirai atau gorden-gorden rumahnya untuk menutup aurat nya. Mereka tidak pernah berkata “panas”. Mereka pun tidak pernah berkata “bagaimana dan mengapa?.” Segera mereka berkata sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami ta’at.

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31) Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.” [10]

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيم

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab : 59)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar dia menyuruh wanita-wanita mukmin , istri-istri ,dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan.”

Tatkala ayat di atas turun, para wanita Anshar pun bila keluar rumah seakan-akan di atas kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena pakaian (jilbab hitam) yang mereka kenakan. [11]

Sekarang ini, sedikit sekali orang-orang yang perduli terhadap agamanya? Apakah kita ridha wanita-wanita muslimah dicabik-cabik kehormatannya, dan dijadikan alat pemuas nafsu para lelaki hidung belang serta menjadi mainan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Bahkan menjadi boneka-boneka orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Tidak!!!

Dan apakah kita tidak takut dengan ancaman Allah yang telah diwahyukan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dimana Rasulullah bersabda,

“Artinya : Sesungguhnya bila manusia telah melihat kemungkaran lantas tidak mengingkarinya, maka telah dekatklah Allah meratakan adzabNya terhadap mereka.”[12] Na’udzubillaahi mindzalik…

Kita kaum muslimin harus mempunyai rasa kecemburuan dalam masalah ini. Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menampakkan kepada kita yang benar itu benar dan memberi taufik kepada kita untuk mengikutinya. Dan menunjukkan yang salah itu salah, lalu member taufik kepada kita untuk menjauhinya. Serta memberi hidayah kepada kita sirathal mustaqim. Kita pun juga harus terus-menerus memohon kepada Allah agar Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kepada para wanita muslimat. Agar mereka menutup auratnya, agar mereka kembali kepada Allah dan agar mereka bertaqwa kepada Allah. Karena hanya kepadaNya lah kita semua akan kembali. Akhir kalam…


والله الموفّق إلى أقوم الطريق

وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين




FootNote

[1] HR. Muslim no. 2742, At-Tirmidzi no. 2191, dan lainnya

[2] HR. Muslim no. 2128


[3] Lihat Syarh Muslim, 9/240


[4] Kasyful Musykil min Haditsi Ash-Shahihain, 1/1031


[5] Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qadir 4/275


[6] Shahih Bukhari no. 5769


[7] Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau bapak yang membiarkan terjadinya perbuatan buruk dalam keluarganya (Lihat Fathul Baari, 10/406. Makna ini disebutkan dalam riwayat lain dari hadits di atas dalam Musnad Imam Ahmad, 2/69. Akan tetapi sanadnya lemah karena adanya seorang perawi yang majhul/tidak dikenal. Lihat Silsilatul Ahaaditsish Shahihah, 2/284).

Lawannya adalah al-gayur, yaitu orang yang memiliki kecemburuan besar terhadap keluarganya sehingga dia tidak membiarkan mereka berbuat maksiat. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 9/357)

[8] HR. An-Nasaa’I no. 2562, Ahmad 2/134 dan lain-lain. Dishahihkan oleh Adz-Dzahabi dalam Kitabul Kaba-ir, hal. 55 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilatul Ahaaditsish Shahihah, no. 284


[9] HR. Al-Bukhari no. 1292, 1293, 1319, 4497 dan Muslim no. 2658 dari Abu Hurairah


[10] Dikutip dari kitab “Al Hijab” Departemen Agama Arab Saudi, Penerbit : Darul Qasim P.O. Box 6373 Riyadh 11442


[11] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (11:182) dengan sanad shahih. Hadits ini disebutkan pula di dalam kitab Ad-Dur(V:221) berdasarkan riwayat Abdurrazzaq, Abd bin Humaid, Abu Dawud, Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Mardawaih dari Ummu Salamah dengan lafazh: “..lantaran pakaian (jilbab) hitam yang mereka kenakan.”


[12] Hadits Riwayat Imam Ahmad (1, 17, 30, 54) dengan sanad Shahih dari Abu Bakar As-Shidiq رضي الله عنه, dan Abu Daud, kitab Al-Malahim (4338), At-Tirmidzi, kitab At-Tafsir (3057) dan Ibnu Majah, kitab Al-Fitan (4005)