Pembagian Hati : Sehat, Sakit Dan Mati

PEMBAGIAN HATI : SEHAT, SAKIT DAN MATI

 

Baik buruknya seseorang sangat tergantung pada hatinya. Jika hatinya lurus, maka perilakunya juga baik, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, sepantasnya seseorang selalu memperhatikan dan memperbaiki hatinya, jika dia menginginkan kebaikan untuk dirinya dan orang lain.

Pada edisi ini, akan disampaikan beberapa macam hati manusia, semoga bisa menjadi panduan dan pengingat untuk memperbaiki hati. Hanya kepada Allâh Azza wa Jalla kita memohon pertolongan.

Hati manusia itu bermacam-macam. Ada qalbun salîm (hati yang selamat; sehat); qalbun mayyit(hati yang mati); dan qalbun marîdh (hati yang sakit). Inilah sedikit perincian tentang hal ini.

HATI YANG SEHAT(QALBUN SALIM)

Orang-orang yang memilik hati ini akan selamat pada hari kiamat, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allâh dengan hati yang bersih. [Asy-Syu’ara’/26: 88-89].

Disebut qalbun salîm (hati yang selamat; sehat) karena sifat selamat dan sehat telah menyatu dengan hatinya. Di samping, ia juga merupakan lawan dari hati yang sakit.

Beragam penjelasan tentang makna qalbun salîm, namun semuanya terangkum dalam penjelasan berikut. Qalbun salîm adalah hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang berseberangan dengan perintah dan larangan Allâh; Bersih dan selamat dari berbagai syubhat yang menyelisihi berita-Nya. Ia selamat, tidak menghambakan diri kepada selain-Nya, tidak menjadikan hakim selain Rasul-Nya; Bersih dalam mencintai Allâh Azza wa Jalla dan dalam berhakim kepada Rasul-Nya; Bersih dalam rasa takut dan berharap kepada-Nya, dalam bertawakal kepada-Nya, dalam bertaubat kepada-Nya, dalam menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencari ridha-Nya di segala keadaan dan dalam menjauhi kemurkaanNya dengan segala cara.

Inilah hakikat penghambaan (ubudiyah) yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allâh semata.

Jadi, qalbun salîm adalah hati yang selamat dari perbuatan syirik. la hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allâh semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inâbah(taubat), merendahkan diri, khasyyah (takut),raja’ (pengharapan). Ia juga mengikhlaskan amalnya untuk Allâh semata. Jika ia mencintai maka ia mencintai karena Allâh Azza wa Jalla . Jika ia membenci maka ia membenci karena Allâh Azza wa Jalla . Jika ia memberi maka ia memberi karena Allâh Azza wa Jalla . Jika ia menolak maka ia menolak karena Allâh Azza wa Jalla . Namun ini saja tidak cukup, dia juga harus selamat dari ketundukan serta hanya berhakim kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia harus mengikat hatinya  dengan kuat untuk mengikuti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ucapan atau perbuatan. Dia menjadikan apa yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi hakim bagi dirinya dalam segala hal, dalam masalah besar maupun kecil. Sehingga dia tidak mendahuluinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allâh dan Rasul-Nya. [Al-Hujurat/49: 1]

Artinya, janganlah kamu berkata sebelum Nabi berkata! Ja­nganlah kamu berbuat sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan!

Sebagian orang Salaf berkata, “Tidak ada suatu perbuatan -betapa pun kecilnya- kecuali akan dihadapkan pada dua pertanyaan: Kenapa dan bagaimana?” Maksudnya, mengapa engkau melakukannya dan bagaimana kamu melakukannya? Soal pertama menanyakan tentang sebab perbuatan, motivasi dan faktor yang mendorongnya;

Apakah sebab perbuatannya adalah tujuan duniawi untuk kepentingan pelakunya, untuk mendapatkan pujian orang atau takut celaan mereka, agar dicintai atau tidak dibenci.

Ataukah motivasi perbuatan tersebut untuk melakukan hak ubudiyah (penghambaan), mencari kecintaan dan kedekatan kepada Allâh Azza wa Jalla .

Inti pertanyaan pertama adalah apakah kamu melaksanakan perbuatan itu untuk Rabbmu ataukah untuk kepentinganmu dan hawa nafsumu sendiri?

Inti pertanyaan kedua merupakan pertanyaan tentang mutâba’ah (mengikuti) Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam soal ibadah tersebut. Dengan kata lain, apakah perbuatan itu termasuk yang disyariatkan melalui lisan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah tidak disyariatkan?

Pertanyaan pertama tentang keikhlasan dan yang kedua tentang mutâba’ah kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla tidak menerima suatu amalan pun kecuali dengan dua syarat tersebut.

Jalan untuk menyelamatkan diri dari pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan dan jalan untuk membebaskan diri dari pertanyaan kedua yaitu dengan merealisasikan mutâba’ah dan menyelamatkan atau menjaga hati dari keinginan yang menentang ikhlas dan hawa nafsu yang menentang mutâba’ah.

Inilah hakikat hati yang selamat yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan.

HATI YANG MATI

Hati yang mati, hati yang kosong dari kehidupan. Ia tidak mengetahui Rabbnya, apalagi beribadah kepada-Nya. Ia selalu menuruti keinginan nafsu dan kesenangan dirinya, meskipun akibatnya ia akan dimurkai dan dibenci Allâh Azza wa Jalla . Ia tidak peduli dengan apapun, yang penting bagi dia adalah keinginan dan syahwatnya terpenuhi. Ia menghambakan diri kepada selain Allâh, dalam cinta, takut, berharap, ridha dan benci, pengagungan dan kehinaan. Jika ia mencintai, ia mencintai karena hawa nafsunya. Jika ia membenci, ia membenci karena nafsu. Jika ia memberi, ia memberi karena nafsu. Ia lebih mencintai dan mengutamakan hawa nafsunya daripada keridhaan Rabbnya. Hawa nafsu menjadi pemimpinnya, syahwat komandannya, kebodohan adalah sopirnya, kelalaian adalah kendaraannya. Ia terbuai dengan pikiran untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi, mabuk oleh hawa nafsu dan kesenangan semu.

Ia tidak mempedulikan orang yang memberi nasihat, ia terus mengikuti setiap langkah dan keinginan setan. Dunia terkadang membuatnya benci dan terkadang membuatnya senang. Hawa nafsu membuatnya tuli dan buta.
Maka membaur dengan orang yang memiliki hati semacam ini. Bergaul dengannya adalah racun dan menemaninya adalah kehancuran.

HATI YANG SAKIT

Yang ketiga adalah hati yang hidup tetapi sakit. Ia memiliki dua unsur yang saling tarik-menarik. Ketika ia berhasil memenangkan pertarungan itu, berarti di dalam hatinya sedang ada rasa cinta kepada Allâh, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya. Itulah nutrisi kehidupan hati. Di dalam hati yang sakit juga ada kecintaan kepada nafsu, keinginan dan usaha keras untuk mendapatkannya, dengki, takabbur, bangga diri, cinta jabatan dan membuat kerusakan di bumi. Inilah unsur yang menghancurkan dan membinasakan hati. Ia diuji oleh dua penyeru, yang satu menyeru kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya serta hari akhirat, sedang yang lain menyeru kepada kenikmatan sesaat. Dan ia akan memenuhi salah satu di antara yang paling dekat dari dirinya.

KEADAAN TIGA HATI

Hati yang pertama selalu tawadhu’, lemah lembut dan sadar. Hati yang kedua adalah kering dan mati. Hati yang ketiga hati yang sakit; ia bisa lebih dekat kepada keselamatan atau kepada kehancuran. Allâh Azza wa Jalla menjelaskan ketiga jenis hati itu dalam firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿٥٢﴾ لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ ﴿٥٣﴾ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai sesuatu ke­inginan, syetan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keingin­an itu, Allâh menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syetan itu dan Allâh menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allâh Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syetan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang keras hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa al-Qur’an itulah yang haq dari Rabbmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allâh adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” [Al-Hajj/22: 52-54].

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla membagi hati menjadi tiga macam: Dua hati terkena keburukan dan satu hati yang selamat. Dua hati yang terkena keburukan adalah hati yang di dalamnya ada penyakit dan hati yang keras (mati), sedang yang selamat adalah hati orang Mukmin yang merendahkan diri kepada Rabbnya, hati yang merasa tenang dengan-Nya, tunduk, berserah diri serta taat kepada-Nya. Oleh sebab itu, hati terbagi menjadi tiga:

Pertama: Hati yang sehat dan selamat, yaitu hati yang selalu menerima, mencintai dan mendahulukan kebenaran. Pengetahuannya tentang kebenaran benar-benar sempurna, juga selalu taat dan menerima sepenuhnya.

Kedua: Hati yang keras, yaitu hati yang tidak menerima dan taat pada kebenaran.

Ketiga: Hati yang sakit, jika penyakitnya kambuh maka hati­nya menjadi keras dan mati, dan jika ia mengalahkan penyakit hatinya maka hatinya menjadi sehat dan selamat.

(Diringkas dari penjelasan Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Ighâtsatul Lahfân)

Menimba Pelajaran Dari Revolusi Arab

APA ITU REVOLUSI ARAB?

Revolusi Arab yang juga dikenal sebagai Arab Spring[1] adalah gerakan protes besar-besaran yang mulai terjadi di berbagai negara Arab pada akhir tahun 2010. Pemicunya adalah maraknya KKN, kezhaliman penguasa,  krisis ekonomi, kehidupan yang susah dan pemilu yang dinilai tidak bersih.  Gerakan ini telah berhasil menggulingkan empat rezim pemerintahan; yaitu di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. Gerakan ini juga merembet ke banyak negara lain dan sebagian masih bergejolak hingga hari ini.

Sebagian gerakan ini berubah menjadi revolusi bersenjata yang menelan banyak  korban jiwa. Di Libya saja, lebih dari 50.000 nyawa melayang. Sampai Juni 2013, jumlah korban jiwa yang tercatat dalam konflik Suriah sudah di atas 70.000. Korban luka, kerugian materi dan non materi juga sangat banyak bahkan tidak bisa dihitung lagi. Saat Libya masih bergolak, kerugian material atas rusaknya fasilitas dan infrastruktur umum diperkirakan mencapai lebih dari 240 milyar dollar.  Sementara saat ini beberapa negara masih bergejolak. Suriah masih membara dan Mesir kembali memanas.[2]

Luasnya cakupan dan dampak gerakan ini ditambah besarnya perhatian dunia kepadanya membuat revolusi ini menjadi salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah modern. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik darinya, sebagaimana kisah sejarah umat-umat terdahulu. Tentang kisah Nabi Yûsuf Alaihissallam misalnya, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Dalam kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” [Yûsuf /12:111]

DI ANTARA PELAJARAN YANG BISA DIPETIK DARI REVOLUSI ARAB ADALAH:

Pertama : Kebenaran sabda-sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits-hadits ini telah diucapkan belasan abad yang lalu dan perjalanan sejarah hingga kini membuktikan bahwa ucapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan wahyu ilahi. Coba simak beberapa hadits berikut:

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

Sepeninggalku akan ada pemimpin-pemimpin yang tidak mengikuti petunjuk dan sunnahku. Dan akan memerintah orang-orang yang berhati setan dan bertubuh manusia.”Abu HurairahRadhiyallahu anhu berkata, “Saya bertanya “ Apa yang harus saya lakukan jika saya mendapati hal itu wahai Rasûlullâh?” Beliau menjawab, “Engkau harus tetap taat dan patuh meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil. Dengar dan taati mereka!”. [HR. Muslim no. 1847]

إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ

Sungguh sepeninggalku nanti kalian akan menemui pemimpin-pemimpin yang mementingkan diri mereka sendiri, maka sabarlah sampai kalian berjumpa denganku di telaga. [HR. Al-Bukhâri, no. 2377dan Muslim, no. 1061]

Di zaman ini, sangat mudah mendapati pemimpin yang memiliki sifat demikian. Sebagian pemimpin Arab juga demikian. Namun untuk pemimpin berhati setan sekalipun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan agar umat Islam bersabar menghadapi mereka. Itulah jalan keselamatan yang telah beliau tunjukkan, namun diabaikan oleh banyak orang. Adakah perumpamaan yang lebih dalam lagi dari berhati setan?

Kedua : Dampak Buruk Korupsi dan Kezhaliman.

Korupsi dan kezhaliman telah menyebabkan rakyat hidup miskin dan susah. Saat kesabaran mereka habis, terjadilah revolusi ini. Dampak buruk kezhalimanpun menjadi senjata makan tuan. Para penguasa kehilangan jabatan dan kemewahan mereka yang selama ini membelai mereka. Itu semua adalah akibat buruk dosa yang Allâh Azza wa Jalla segerakan di dunia. Pertanggungjawaban di akhirat jelas akan lebih sulit. Bayangkan jika jutaan rakyat yang dizhalimi menuntut keadilan di pengadilan Allâh Azza wa Jalla ?

Ketiga : Raja Dunia Berubah Menjadi Pesakitan.

Revolusi Arab telah merubah kehidupan orang dengan begitu drastis. Para tiran yang sebelumnya memiliki kekuasaan begitu absolut, tiba-tiba berubah menjadi buron atau pesakitan. Ada yang diseret ke pengadilan dalam keadaan sakit. Ada yang disiksa oleh rakyatnya sendiri sebelum akhirnya dibunuh. Kawan-kawan terdekat tiba-tiba menjadi musuh yang menikam. Demikianlah Allâh Azza wa Jalla dengan mudah membolak-balikkan keadaan hamba-Nya. Orang yang nampak kuat di mata manusia ternyata begitu lemah di sisinya.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah, “Wahai Allâh Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.Di tangan Engkaulah segala kebajikan.Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Ali Imrân/3:26]

Begitu juga dengan diri kita, kita juga tidak aman dari musibah-musibah seperti ini. Juga tidak ada jaminan bahwa kita akan terus berada di atas jalan iman dan sunnah. Alangkah butuhnya kita akan bimbingan dan perlindungan Allâh Azza wa Jalla . Salah satu doa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجْأَةِ نِقْمَتِكَ وجَمِيْعِ سَخَطِكَ

Ya Allâh, aku berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmatMu, berubahnya keselamatan yang Engkau berikan, hukumanMu yang tiba-tiba dan seluruh murkaMu.” [Shahih Sunan Abi Dawudno. 1382]

Keempat : Sistem Kerajaan Lebih Stabil Dari Sistem Presidensial.

Semua Negara yang bersistem kerajaan sejauh ini berhasil meredam gelombang revolusi, yaitu  delapan Negara dari total 22 anggota Liga Arab: Arab Saudi, Oman, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Jordania dan Maroko. Sedangkan pemerintahan yang berhasil digulingkan, semua bersistem presidensial.

Kelima : Kudeta Biasanya Membawa Kerusakan Lebih Besar daripada Kerusakan Yang Ingin Dihilangkan.

Dalam Revolusi Arab, korban yang luar biasa besar sudah jatuh. Kerugiannya tidak bisa dihitung lagi. Keamanan berganti menjadi rasa takut dan kekacauan. Sementara kebaikan yang diharapkan belum tentu terwujud. Korupsi tetap jalan, yang berubah hanya pelakunya. Kezhaliman masih merajalela dan ekonomi justru semakin terpuruk. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Barangkali hampir tidak diketahui ada sekelompok orang yang melakukan kudeta terhadap pemimpin, melainkan dalam kudeta tersebut terdapat kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang ingin dihilangkan.”[3]

Keberhasilan kudeta membuat rakyat tidak lagi hormat kepada penguasa. Jika sudah demikian, tinggal kekacauan yang ditunggu.

Keenam : Demonstrasi Damai Berubah Menjadi Kekacauan Bahkan Pertumpahan Darah.

Sebab para demonstran belum tentu satu tujuan, dan tidak memiliki satu komando. Mereka juga tidak bisa menolak orang lain yang hendak bergabung, dan bahkan mungkin tidak saling mengenal satu sama lain. Dalam kondisi seperti ini, provokator sangat mudah menyusup untuk menyulut fitnah. Apalagi jika mereka keluar dengan emosi lalu mendapat perlakuan dan sikap yang tak sesuai keinginan, maka bukan saja kekacauan yang terjadi, namun perang saudara dan pertumpahan darah.[4] Apa yang terjadi dalam revolusi Arab adalah bukti paling aktual akan hal ini. Semua kekacauan dan pertumpahan darah yang terjadi berawal dari aksi damai.

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Kamu hendaknya mengikuti para salaf. Kalau memang demonstrasi ada di zaman salaf, berarti baik. Namun jika tidak ada di zaman mereka, berarti jelek. Tidak diragukan sedikitpun bahwa demonstrasi itu jelek, sebab ia menimbulkan kekacauan, baik dari pihak demonstran maupun yang lain. Bahkan terkadang menimbulkan tindak aniaya terhadap kehormatan, harta benda, dan jiwa. Karena mereka yang tenggelam dalam kekacauan tadi, seperti pemabuk yang tidak sadar terhadap ucapan dan perbuatannya. Jadi, demonstrasi itu jelek semua, baik diizinkan oleh penguasa maupun tidak. Adanya sebagian penguasa yang mengizinkan demonstrasi sebenarnya hanyalah basa-basi, sebab jika hati kecilnya ditanya ia pasti sangat membencinya. Namun ia berusaha menampakkan dirinya sebagai orang yang ‘demokrat’, dan memberi kebebasan bagi rakyat… ini semuanya bukanlah sikap para salaf”.[5]

Ketujuh : Sunnah Sayyi`ah Muhammad al-Bou’azizi.

Pemicu revolusi Arab adalah tindakan bakar diri yang dilakukan oleh pemuda Tunisia bernama Muhammad al-Bou’azizi yang tertekan oleh kehidupannya yang sulit. Saat polisi merazia dan mengambil gerobak yang dipakainya berdagang, ia membakar diri. Aksi ini membakar semangat warga Tunisia untuk mendukungnya dan melakukan demo besar-besaran menuntutreformasi dan berhasil menggulingkan pemerintahan Zainal Abidin bin Ali. Keberhasilan warga Tunis memicu revolusi di Mesir, lalu Libya, Yaman dan Negara-negara lain.

Mungkin al-Bou’azizi tidak pernah menyangka bahwa aksi spontannya akan berdampak sedemikian besar. Dia dikhawatirkan akan menghadapi pertanggungjawaban besar di hadapan Allâh Azza wa Jalla ; karena memelopori kerusakan sedemikian luas. Demikian juga para pelopor revolusi di setiap Negara, seperti Wa`il Ghanim di Mesir.

Kedelapan : Revolusi Digerakkan Oleh Anak Muda.

Seperti  umumnya gerakan revolusi, Revolusi Arab juga digerakkan oleh anak-anak muda salah asuhan. Mereka dengan semangat menyala-nyala yang tidak diimbangi dengan ilmu yang cukup. Akibatnya adalah berbagai kerusakan yang sudah disebutkan. Karakter seperti ini mirip dengan kelompok yang disinggung oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ، حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ البَرِيَّةِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ

Di akhir zaman akan datang suatu kaum yang masih muda, lemah akal, dan mengucapkan perkataan yang terbaik.Mereka terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari binatang buruan dan iman mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Di manapun kalian bertemu mereka, perangilah; karena itu berpahala bagi pelakunya pada hari kiamat. [6]

Kesembilan : Pemerintah Adalah Cermin Rakyat

Rakyat yang baik akan melahirkan pemimpin yang baik, dan sebaliknya, pemimpin yang buruk adalah cermin dari keburukan rakyatnya. Jika demikian, hendaknya rakyat tidak hanya menyalahkan pemimpin, tapi juga memperbaiki diri. Jika pemimpin yang adil tidak bisa  dihasilkan jika rakyat masih zhalim, hendaknya usaha membangun pemerintahan yang Islami dimulai dengan mendakwahi rakyat.

Kesepuluh : Jangan Hadapi Kezhaliman Penguasa Dengan Pedang

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Ketahuilah –Semoga Allâh Menyelamatkanmu- bahwa kezhaliman penguasa adalah salah satu hukuman dari Allâh, dan hukuman Allâh tidak boleh dilawan dengan pedang, melainkan dihindarkan dengan doa, taubat dan meninggalkan dosa. Jika hukuman Allâh bertemu pedang, hukuman Allâh yang akan menang.”

Kesebelas : Bid’ah Yang Samar Menjadi Jelas.

Ada sebagian bid’ah yang tidak nampak kecuali pada zaman fitnah. Sebelum terjadinya Perang Teluk di tahun 1991, pemuda-pemuda pengusung pemikiran sururi adalah para juru dakwah yang direkomendasikan oleh para ulama senior. Bahkan kesamaran akan perkara mereka juga terjadi pada para ulama besar. Orang yang awam tentu lebih sulit mendeteksi penyimpangan mereka. Namun fitnah Perang Teluk menyibak tabir hakekat mereka.

Demikian pula, banyak orang yang menisbatkan diri kepada manhaj salaf dan berpenampilan sesuai sunnah. Namun pada hakekatnya mereka menyimpan pemikiran yang menyimpang. Revolusi Arab telah menyibak tabir hakekat  mereka. Gelombang revolusi membuat mereka terseret ikut mencaci pemerintah di atas mimbar dan berunjuk rasa di jalan dan lapangan. Oo, anda ketahuan! Posisi mereka sungguh jauh dari manhaj ahlussunnah dalam bab ini.

Yang menggelikan, bagi sebagian orang, kesesatan Hizbullah dan al-Buthi baru mereka sadari dengan adanya Revolusi Arab.Walhamdulillah ‘ala kulli hal.

Kedua Belas : Kontradiksi Kaum Haraki

Saat sebagian Ulama memfatwakan bolehnya mendatangkan bala bantuan dari Negara kafir dalam Perang Teluk, mereka dicela habis oleh kaum haraki. Namun di revolusi Arab ini, giliran mereka yang jatuh dalam perkara yang mereka caci. Revolusi di Libya –misalnya– sangat jelas dibantu oleh NATO, Prancis dan Mahkamah Pidana Internasional. Herannya, kali ini nyaris tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Apakah isti’anah bil kuffar haram bagi Arab Saudi dan halal untuk kalian?

Kudeta yang dilakukan militer terhadap Mursi di Mesir dianggap batil, sementara kudeta yang mereka lakukan terhadap Husni Mubarak dianggap sah. Bedanya apa? Karena Mursi adalah bagian dari jama’ah anda.

Ketiga Belas : Anomali Arab Saudi Dan Aljazair.

Dalam revolusi Arab ini terjadi pengecualian di beberapa Negara, di antaranya Arab Saudi dan Aljazair. Saat kawasan Timur Tengah dilanda gelombang kudeta, Arab Saudi relatif adem ayem. Hanya ada riak-riak kecil di kota-kota Syiah yang bisa dengan mudah dikontrol. Ketika ‘ulama’ di negara-negara tetangga ikutmengompori revolusi, para ulama dan juru dakwah di Saudi membela dan menjelaskan hak besar Raja Abdullah atas rakyatnya. Dalam khutbah Jumat selalu terselip doa kebaikan untuk Sang Raja yang diamini oleh jutaan rakyatnya plus jutaan orang asing yang mengais rejeki di negeri penegak bendera tauhid ini. Begitulah jika ilmu dan sunnah menyinari suatu negeri. Hanya orang bodoh yang ingin mengganti kemakmuran dan keamanan negeri ini dengan prahara. Kondisi Negara-negara yang‘berhasil’ dalam revolusi sungguh tidak pantas untuk dijadikan sasaran iri hati.

Revolusi juga tidak laku di Aljazair. Aljazair telah mengalami berbagai gejolak beberapa waktu yang lalu. Pegalaman pahit mengalami gejolak itu ditambah suburnya dakwah sunnah di negeri ini telah membuat rakyat Aljazair lebih dewasa . Ajakan melakukan aksi protes besar-besaranpun  tidak berhasil.

Keempat belas : Sejarah Terulang, Syariat Islam Tidak Bisa Dibangun Dengan Jalan Demokrasi.

Apa yang terjadi di Mesir akhir-akhir ini, di mana militer membatalkan pemerintahan presiden Mursi sangat mirip dengan yang terjadi di Aljazair pada tahun 1992. Partai a-Ikhwan al-Muslimin (FJP) unggul dalam pemilu Mesir dengan 48 % suara. Selanjutnya Muhammad Mursi terpilih menjadi presiden. Setelah setahun memerintah, banyak pihak yang menuntutnya mundur, dan kemudian militer mengumumkan peralihan kekuasaan dari tangan Mursi. Pada tahun 1991,bahkan Partai FIS (Front Islamique du Salut/Front Penyelamatan Islam) memenangkan pemilu Aljazair dengan 82 % suara. Namun sebulan berselang, Majlis Tertinggi Negara yang dikuasai oleh militer mengumumkan pembatalan hasil pemilu yang diikuti pemberlakuan keadaan darurat dan pembubaran FIS. Dalihnya sama, yaitu penyelamatan demokrasi dari upaya islamisasi.

Perlawanan terhadap keputusan militer Aljazair menyeret rakyat ke dalam fitnah berkepanjangan yang menelan korban jiwa lebih dari 200.000 orang. Demikian juga kemenangan Partai Refah di Turki  dalam pemilu 1995 tidak lantas membuat Islam tegak di sana.

Dalam sejarah modern, hanya Arab Saudi yang berhasil mendirikan Negara dan pemerintahan Islam. Usaha tak kenal lelah oleh para juru dakwah yang dipelopori Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab akhirnya mendapat dukungan dari Raja Muhammad bin Saud. Dengan taufik dari Allâh, sinergi ulama dan umara ini berhasil mendirikan negara yang konsisten menjadikan Islam sebagai dasar Negara hingga saat ini.

Naiknya seorang pemimpin dan kedaulatan yang sudah di tangan ternyata tidak berarti apa-apa dalam upaya penegakan Islam. Apalagi jika itu didahului dengan kudeta yang merupakan pelanggaran agama.

Berkompromi dengan demokrasi semestinya dilakukan untuk mengecilkan kerusakan saja. Membentuk partai dan masuk dalam pemilu semestinya tidak dijadikan sarana utama. Sarana penegakan Islam adalah dakwah dengan tauhid sebagai prioritasnya. Sayangnya mereka yang memilih jalur politik sebagai medan juang justru lebih asyik dengan dunia politik dan sedikit banyak mengabaikan dakwah. Bahkan mereka yang ingin memperbaiki keadaan justru sebagian ikut terseret dalam arus kerusakan. Bahkan sebagian mengorbankan akidahnya demi memperoleh suara dukungan. Padahal, rakyat yang buruk tidak akan menghasilkan pemimpin yang baik. Kemenangan dan kekuasaan tanpa perbaikan agama rakyat hanyalah fatamorgana.

PENUTUP

Itulah beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari Revolusi Arab. Peristiwa yang dialami negara-negara Arab ini adalah cermin bagi umat Islam yang lain. Hendaknya kita menjadikannya sebagai pelajaran agar kita selamat di dunia dan akhirat. Orang bijak mengatakan,

السَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ

“Orang berbahagia adalah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain.”[7]

_______
Footnote
[1] Media barat menggambarkan revolusi ini sebagai musim semi yang indah, padahal isinya adalah kekacauan dan pertumpahan darah. Barangkali penamaan itu memang mencerminkan perasaan mereka. Mereka bertepuk tangan menyemangati umat Islam untuk saling tikam, sementara mereka hidup dengan tenang di negeri mereka. Adapun bagi umat Islam, revolusi ini bukanlah musim semi. Tidak pula memberi harapan datangnya musim semi; karena dalam sejarahnya kudeta hanya mendatangkan kerusakan yang lebih besar.

[2] Lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/ الثورات العربية

[3] Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 3/391.

[4] Artikel “Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah” 3 (http://basweidan.com)

[5] Lihat: Liqa` al-Bâb al-Maftuh, no 179.

[6] Shahîh al-Bukhâri no. 3611

[7] Tafsir al-Qurthubi 18/5.

🌻IBU MENYURUH ANAKNYA MENCERAIKAN ISTRINYA ( Sesi Tanya Jawab)🌻

IBU MENYURUH ANAKNYA MENCERAIKAN ISTRINYA

Pertanyaan.

Jika seorang ibu menyuruh anak laki-lakinya yang sudah menikah untuk menceraikan istrinya sebagai akibat dari percekcokan yang terjadi antara si ibu dan keluarga si istri, padahal si istri sama sekali tidak ikut campur dalam masalah tersebut. Dan secara kasat mata, si istri adalah wanita yang istiqamah dan baik. Haruskah si anak mentaati perintah ibu untuk menceraikan istrinya? Mohon penjelasan, jazakumullah khairan

Jawaban.

Sebelum memberikan jawaban terhadap permasalahan yang sedang mendera penanya, kami turut berempati kepada kepada saudara dan semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan solusi terbaik bagi saudara dan semua anggota keluarga penanya.

Saudaraku, sebagaimana telah diketahui bersama bahwa nash-nash syar’iyah yang terkait dengan mentaati kedua orang itu banyak sekali. Nash-nash tersebut mengharuskan seorang anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada keduanya, seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. [Al-Isra’/17:23]

Namun, perlu diketahui bahwa ketaatan itu harus dilakukan jika mereka memerintahkan untuk melakukan hal-hal yang ma’ruf (yang baik) bukan untuk melakukan perbuatan maksiat atau kemungkaran. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [Luqman/31:15]

Dan berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Sesungguhnya kewajiban taat itu hanya ada pada hal-hal ma’ruf[1]

Berdasarkan uraian di atas, apabila seorang ibu menyuruh anak laki-lakinya untuk menceraikan istrinya dengan beberapa sebab yang semua sebab itu hanya sekedar mengikuti hawa nafsu, sekedar menginginkan keduanya berpisah, atau disebabkan oleh pertengkaran atau permusuhan dua keluarga tanpa ada ikut campur tangan sama sekali dari istri anak laki-lakinya dalam permusuhan tersebut. Dalam hal ini, si ibu hanya ingin melampiaskan emosinya dengan menyuruh anaknya menceraikan istrinya sebagai bentuk balasan kepada istri dan keluarga istri. Jika demikian ini faktanya, maka perintah ibu tersebut bukan dilatar belakangi alasan yang syar’i. Oleh karena itu, si anak tidak wajib mentaati permintaan ibunya dengan menceraikan istrinya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِـمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ

Tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allâh Azza wa Jalla[2]

Terlebih lagi jika secara kasat mata terlihat beberapa indikasi ketakwaan, kebaikan dan keistiqamahan pada diri istri dalam kehidupan berumah tangga. Bahkan seharusnya si anak laki-laki ini harus berusaha membantu ibunya agar menarik kembali permintaannya itu. Ini bertujuan supaya si ibu tidak terjerumus dalam perbuatan menzhalimi orang lain dan merusak kehidupan suami istri hanya disebabkan permusuhan dalam keluarga besar mereka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَرُدُّهُ عَنْ ظُلْمِهِ فَذَاكَ نُصْرَةٌ لَهُ

Bantulah saudaramu yang berlaku zhalim atau yang dizhalimi. Para Sahabat bertanya, ‘Kami membantu saudara kami yang dizhalimi, lalu, bagaimana cara membantu saudara yang berbuat zhalim?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau menahannya dari perbuatan zhalimnya. Itulah bentuk menolong saudara yang hendak berbuat zhalim.”[3]

Adapun jika perintah ibu kepada anak laki-lakinya agar menceraikan istrinya berdasarkan sebab-sebab yang sesuai syari’at dan untuk mewujudkan kemaslahatan yang sesuai syari’at, maka si anak wajib taat. Misalnya, si istri terbukti melakukan keburukan, seperti melakukan praktek sihir atau perdukunan, atau melakukan keburukan dalam intraksinya dengan lelaki yang bukan mahramnya, atau terbukti dia melakukan pencurian, atau mengkhianati ikatan rumah tangga, atau dia berani keluar rumah pada waktu-waktu yang mencurigakan tanpa izin dari suaminya, atau si suami tahu bahwa si istri sering meninggalkan ibadah-ibadah yang diwajibkan dalam agama, berperangai buruk dan lain sebagainya. Jika ini benar-benar terbukti, bukan sekedar berdasarkan dugaan semata, maka si anak wajib mentaati perintah ibunya. Dia harus menceraikan istrinya.

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma mengatakan:

كَانَتْ عِنْدِي امْرَأَةٌ أُحِبُّهَا وَكَانَ أَبِي يَكْرَهُهَا فَأَمَرَنِي أَبِي أَنْ أُطَلِّقَهَا فَأَبَيْتُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ ! طَلِّقِ امْرَأَتَكَ

Saya memiliki seorang istri yang saya sukai, tapi bapakku tidak menyukainya. Lalu bapakku menyuruhku untuk menceraikannya, tapi saya keberatan. Lalu saya menderitakan hal itu kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abdullah bin Umar! Ceraikanlah istrimu!” Maka saya pun menceraikan istri saya itu[4]

Hadits ini menunjukkan bahwa diantara hak seorang bapak yang baik dan bertujuan baik, sejalan dengan syari’at, jika dia membenci istri anaknya dengan alasan yang sesuai syari’at pula, maka dia berhak meminta anaknya untuk menceraikan istrinya dan kewajiban anak untuk mentaati permintaannya. Jika seoranng bapak berhak seperti ini, maka ibu lebih berhak melakukannya, karena hak seorang ibu terhadap anak melebihi hak seorang bapak terhadap anaknya. Ini jika ketentuan-ketentuan di atas yang sesuai syari’at telah terpenuhi.

Wallahu a’lam

Footnote
[1] HR. Al-Bukhâri, no. 7145 dan Muslim, no. 1840 dari hadits Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu

[2] HR. Ahmad, no. 1095 dari hadits Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu. Hadits ini dinilai sebagai hadits shahih oleh syaikh al-Albani rahimahullah dalam as-Silsilah ash-Shahîhah, no. 179

[3] HR. Al-Bukhâri, no. 6952 dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 2584 dari hadits Abdullah bin Jâbir.

[4] HR. At-Tirmidzi, no. 1189; Al-Hakim, 4/169; Ahmad, no. 5011 dari hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma . Hadits ini dihukumi shahih oleh syaikh al-Albani rahimahullah dalamal-Irwa’, 7/136

 

Islam Bukan Budaya Arab

Akhir-akhir ini kita sering diperdengarkan sebuah istilah baru dalam penyebutan sebuah konsep beragama dengan istilah; Islam Nusantara. Istilah ini mulai mengemuka setelah penggunaan langgam Jawa dalam tilawah al-Qur’an pada tanggal 17 Mei Tahun 2015 di Istana Negara. Kejadian tersebut menuai kritik dari berbagai kalangan. Kejadian tersebut bukan sebuah kejadian tanpa disengaja, akan tetapi itu merupakan sebuah konsep yang akan digulirkan oleh Menteri Agama RI! Kemudian istilah ini lebih mengelinding lagi bagaikan bola salju ketika muktamar NU ke-33 di Jombang mengambil tema: “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Alhasil isu Islam Nusantara menjadi topik yang ramai diperbincangkan oleh banyak pihak, mulai dari tokoh agama, tokoh politik dan kalangan akademisi. Akan tetapi berbagai tanggapan dan pendapat seputar Islam Nusantara belum juga bisa didudukan dengan jelas, karena memang salah satu target dari pencetusan ide ini adalah untuk menimbulkan kebingungan yang berkepanjangan di tengah masyarakat. Karena Istilah Islam Nusantara, disatu sisi bisa benar dan pada sisi lain salah, alias samar-samar (Mutasyâbih). Kalau kita umpamakan istilah Islam Nusantara bagaikan ular berkepala belut, mau dikatakan halal ada unsur haramnya, sebaliknya jika dikatakan haram ada pula unsur halalnya.

Perlu kita ketahui bahwa menggunakan bahasa yang samar (Mutasyâbih) adalah salah satu metode pemasaran pemikiran sesat yang dilakukan oleh orang-orang sesat sejak dahulu kala. Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla menceritakan kebiasaan Bani Israil:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. [Al-Baqarah/2:42]

Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla melarang mengikuti istilah yang memiliki penafsiran ganda, seperti Allâh Azza wa Jalla melarang orang Islam untuk meniru-niru istilah orang Yahudi yang biasa mereka gunakan untuk mengejek Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا 

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Râ’ina”, tetapi katakanlah, “Unzhurna” dan “dengarlah!”,[Al-Baqarah/2:104]

Kata Râ’ina memiliki makna ganda, bisa berarti “Dengarkanlah kami!” Dan juga bermakna celaan. Akan tetapi orang-orang Yahudi mengucapkannya untuk mencela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Agar tidak terjadi kesamaran dalam sebuah istilah atau ungkapan, Allâh Azza wa Jalla melarang orang-orang Mukmin menggunakan dan mengucapkan kalimat tersebut. Oleh sebab itu, sangat latah jika kita ikut-ikutan menggunakan istilah-istilah yang menimbulkan polemik dalam pemahaman.

Tujuan penggunaan istilah yang “abu-abu” adalah untuk mengelabui orang awam, atau jika mereka berhadapan dengan lawan yang kuat mereka munculkan sisi benarnya, dan mereka akan terang-terangan bila berbicara dihadapan sesama rekan mereka, dimana hakikat ide Islam Nusantara adalah untuk menghambat perkembangan dakwah yang hak, dakwah yang mengajak untuk menjalani Islam yang belum terkontaminasi oleh berbagai budaya, yang dalam istilah mereka disebut Islam Arab.

Kalau kita cermati banyak hal yang perlu dipertanyakan tentang ide dan konsep Islam Nusantara tersebut. Diantara pertanyaan tersebut; Apa dasar pemikiran Islam Nusantara? Apa Tujuannya? Kalau jawabannya: Dasar pemikiran Islam Nusantara al-Qur’an dan as-Sunnah. Berarti tidak ada bedanya dengan Islam yang sudah diamalkan sejak kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tapi bila jawabannya: Islam yang berdasarkan budaya, maka berarti berbeda dengan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Lalu tujuannya apa? Kalau jawabannya untuk terciptanya kedamaian dan toleransi dalam kehidupan bernegara. Bukankah Islam datang untuk menegakkan misi ini? Bukankah hal ini sudah dibuktikan dalam sejarah Islam sewaktu Islam berkuasa di Madinah, Syam dan Andalusia? Tapi bila jawabannya untuk menjadikan Indonesia sebagai model percontohan kedamaian dan toleran. Kenapa Islam Nusantara tidak toleran terhadap orang-orang yang tidak mau dengan konsep Islam Nusantara? Apa toleran itu berlaku untuk sesama pemeluk Islam Nusantara saja?

Kenapa istilah Islam Nusantara sering dibenturkan dengan istilah Islam Arab? Yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah polemik anti Arab. Kenapa yang ditolak itu budaya Arab saja dan tidak disebutkan menolak budaya Barat juga?

Suatu pertanyaan lagi adalah; kenapa yangending itu istilah “Islam Nusantara” yang diusung oleh NU? Bukan istilah “Islam Yang Berkemajuan” yang diusung oleh Muhammadiyah?

Kenapa yang dianggap sebagai Islam Nusantara hanya tradisi keberagamaan yang dilakukan oleh massa NU, kenapa pengamalan ormas-ormas Islam lain tidak dianggap sebagai bagian dari Islam Nusantara? Bahkan ada yang lebih fatal lagi, untuk menilai seseorang itu pro NKRI atau tidak dilihat dari sisi tahlilan atau tidak!? Bukankah di sana sangat banyak sekali ormas yang tidak melakukan tahlilan? seperti Muhammadiyah, Persis, al-Irsyad dan lain-lain. Bahkan diantara ormas Islam tersebut ada yang lebih dahulu lahir dari ormas NU. Berati Islam Nusantara adalah paham yang kaku, tidak toleran alias radikal.

Rasanya kita tidak perlu membuang waktu dan energi untuk membuktikan kelabilan konsep Islam Nusantara dari berbagai sisi. Cukup kita melihat siapa yang melakoni atau pencetus Islam Nusantara itu sendiri. Apakah mereka para pencetus Islam Nusantara orang yang patut dicontoh pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran Islam? Apakah mereka orang-orang yang benar-benar berakhlak mulia? terutama terhadap orang yang menegakkan dan menjalani ajaran Islam dengan baik? Atau malah sebaliknya; suka memperolok-olok dan melecehkan para penegak sunnah? Apakah mereka selama ini adalah para pembela Islam atau sebaliknya? Apakah pemahaman mereka lebih baik dari pemahaman para Sahabat g ? Sehingga teori yang mereka cetuskan lebih baik dari keislaman para Sahabat? Apakah mereka orang yang taat beribadah dan suka membaca al-Qur’an? Apakah alasan dan hal yang melatarbelakangi lahirnya konsep Islam Nusantara ini belum tercover dalam ajaran Islam yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disebarkan oleh para Sahabat?

Berikut ini kita akan mengupas topik Islam Bukan Budaya Arab, tidak seperti yang disinyalir oleh kaum SIPILIS termasuk Jemaat Islam Nusantara bahwa ajaran Islam sarat dengan budaya Arab.

DEFINIS BUDAYA DAN HAKIKATNYA

Secara etimologi budaya dalam bahasa Arab disebut ‘âdah atau ‘Uruf.[1] Secara terminologi budaya berarti kebiasaan dalam masyarakat, baik berbentuk ucapan maupun perbuatan yang sesuai dengan akal sehat dan tabi’at yang baik.[2]

Namun sebagian diantara Ulama ada yang membedakan antara ‘âdah dengan ‘Uruf secara terminologi. Ada yang mengatakan ‘âdah lebih khusus, sedangkan ‘Uruf lebih umum. Dan ada pula yang berpendapat sebaliknya. wallâhu a’lam. [3]

Pengertian budaya dalam bahasa Arab tidak berbeda dengan pengertiannya dalam bahasa lain. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. [4]

Di jelaskan dalam wikipedia: Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.  Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[5]

Pengertian budaya menurut ilmuwan Barat juga tidak jauh berbeda dengan pengertian yang dijelaskan oleh para Ulama Islam. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. [6]

Dapat disimpulkan dari berbagai penjelasan di atas bahwa hakikat budaya adalah hasil dari buah pikiran manusia yang dianggap baik oleh masyarakat tertentu. Baik buruknya budaya berbeda-beda berdasarkan persepsi masing-masing masyarakat, lalu menjadi tabi’at mereka sehari-hari. Maka suatu budaya bisa dianggap baik oleh sekelompok masyarakat namun juga dianggap tidak baik oleh sekelompok masyarakat lain. Dalam artian bahwa kebenarannya relatif dan tidak absolut. Contoh dalam budaya barat lesbi, homoseksual dan minum khamar adalah budaya yang maju dalam sisi kebebasan. Namun budaya tersebut sangat tidak cocok di tengah-tengah budaya masyarakat timur.

Atau bisa saja suatu budaya pada suatu masa dianggap baik, namun pada masa yang lain bisa dianggap tidak baik oleh masyarakat yang sama. Berarti penilaian terhadap sebuah budaya itu bisa berubah-ubah atau kondisional. Contoh dulu masyarakat Eropa lebih suka budaya sosialisme akan tetapi sekarang budaya yang mereka sukai adalah budaya kapitalisme.

Maka berikut ini akan dijelaskan beberapa sisi perbedaan antara Islam dengan Budaya.

PERBEDAAN ANTARA ISLAM DAN BUDAYA

Pertama: Budaya bersumber dari manusia yang umumnya memiliki sifat zhalim lagi bodoh.

Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla gambarkan tetang sifat manusia secara umum dalam firman-Nya:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh[Al-Ahzâb/33:72)

 Islam sumbernya dari Allâh Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana dan Maha Adil. Allâh Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi seluruh makhluk. Allâh Maha Bijaksana dalam segala ketentuan dan keputusan-Nya, tidak ada yang sia-sia dalam segala ciptaan-Nya. Allâh Maha Adil dalam segala ketetapan dan hukum-Nya, tidak sedikitpun ada kezhaliman dalam segala ketetapan Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla tegaskan dalam kitab suci al-Qur’an:

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al- Qur’an ketika al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya al-Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (al- Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”[Fushshilat/41:42)

Dan Allâh Azza wa Jalla tidak sedikitpun berbuat zhalim terhadap para hamba-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Barangsiapa mengerjakan amal yang shaleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya para hamba-Nya.”[Fushshilat/41:46]

Kedua: Sebuah budaya belum tentu cocok untuk semua manusia

Budaya Asia belum tentu cocok untuk orang Afrika, budaya Arab belum tentu cocok untuk orang Eropa. Akan tetapi ajaran Islam cocok untuk seluruh umat manusia, apapun bangsa dan suku mereka, bahkan untuk Jin sekalipun.

Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Saba’/34:28]

Ketiga: Sebuah budaya belum tentu cocok pada setiap saat, terkadang hanya cocok untuk waktu dan zaman tertentu.

Sedangkan Islam diturunkan Allâh Azza wa Jalla untuk sepanjang waktu dan masa sampai akhir zaman. Islam tidak hanya berlaku pada fase kenabian dan kekhalifahan saja, akan tetapi berlaku untuk seluruh generasi umat manusia sampai hari kiamat. Karena Islam adalah agama terakhir yang dijaga keasliannya oleh Allâh Azza wa Jalla sampai hari kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya[Al-Hijr/15:9]

Dan akan tetap ada golongan dari manusia yang beramal dan berada di atas Islam yang murni sampai hari kiamat, sebagaimana Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tegaskan dalam sabdanya:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أمتي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يأتي أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Akan senantiasa ada satu golongan dari umatku berada diatas kebenaran, mereka tidak merasa terganggu dengan orang-orang yang menghina mereka, sampai datang keputusan Allâh (hari kiamat) mereka tetap seperti itu.[7]

Keempat: Sebuah budaya belum tentu cocok  pada semua tempat, bahkan sering terbatasi oleh tempat dan ruang.  

Sedangkan Islam diturunkan Allâh Azza wa Jalla berlaku untuk di semua tempat, baik di Barat maupun di Timur, baik di Eropa, Afrika maupun di Asia. Islam tidak hanya berlaku di Arab saja, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla tegaskan dalam al-Qur’an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al-Anbiyâ’/21:107]

 Kelima: Sebuah budaya boleh untuk kita pilah-pilih, bisa kita tolak dan tinggalkan bahkan kita lupakan

Sedangkan Islam wajib untuk kita terima dan amalkan, tidak boleh kita tolak, tidak boleh kita tinggalkan apalagi dilupakan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allâh dan (karena) mereka membenci(apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya, sebab itu Allâh menghapus (pahala) amal-amal mereka.[Muhammad/47:28]

Islam tidak boleh kita pilah-pilih bahkan harus kita terima dan kita jalankan secara total dan maksimal, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla perintahkan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, danjanganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitanSesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu“. [Al-Baqarah/2:208]

PANDANGAN ISLAM TERHADAP BUDAYA

Salah satu cara orang Arab Jahiliyah untuk menolak kebenaran Islam adalah membanggakan budaya nenek moyang, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla sebutkan argumentasi orang-orang musyrik ketika diseru ke dalam agama Islam:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allâh,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? [Al-Baqarah/2:170]

Demikian pula disebutkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla yang lain:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allâh.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka Sa’ir)? [Luqmân/31:21]

Begitu banyak budaya Arab jahiliyah yang dikoreksi oleh Islam, ini menunjukkan bahwa Islam bukanlah budaya Arab. Berikut ini kita sebutkan beberapa contoh budaya Arab yang dihapus oleh Islam:

  • Bertawassul dengan orang mati.

Salah satu kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyah yaitu mengkultuskan orang shaleh namanya Latta.  Pada mulanya patung Latta adalah simbol orang yang sangat dermawan kepada para jamaah haji. Dengan berlalunya waktu akhirnya patung itu dijadikan oleh masyarakat Arab Jahiliyah sebagai media bertawassul kepada Allâh Azza wa Jalla .  Jika mereka ingin mendapatkan sesuatu mereka mendatangi patung Latta tersebut untuk bertawassul.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

dan orang-orang yang menggambil selain Allâh sebagai pembantu, kami tidak menyembah mereka kecuali untuk mendekatkan kami kepada Allâh sedekat-dekatnya[Az-Zumar/39:3]

Menurut asumsi mereka hal itu bukan perbuatan syirik akan tetapi bagian dari minta syafaat dalam budaya mereka.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Dan mereka menyembah selain daripada Allâh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allâh. [Yûnus/10:18]

Karena hal itu sudah menjadi adat kebiasaan dan budaya nenek moyang mereka sejak dulu kala, mereka menolak untuk meninggalkannya.

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا ۖ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allâh saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” [Al-A’râf/7:70]

  •  Tawaf di Ka’bah tanpa busana

Allâh Azza wa Jalla sebutkan perilaku buruk mereka ini dalam firman-Nya yang mulia:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. [Al-A’râf/7:31]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat ini adalah bantahan atas kebiasaan orang-orang musyrik bertawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang. Sebagaimna yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nasaai dan Ibnu Jarir … dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Mereka orang-orang musyrik bertawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang, baik laki-laki maupun wanita; (untuk) laki-laki pada siang hari dan wanita di malam hari.”[8]

  • Beribadah di Ka’bah dengan bersorak sambil bertepuk tangan.

Hal ini Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam surat al-Anfâl:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

Tidaklah shalat mereka di sekitar Baitullah itu, kecuali hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.”[Al-Anfâl/8 :35]

  • Suka bernyanyi atau menyewa para biduan untuk bernyanyi

Kebiasaan ini Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam surat Luqmân:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allâh tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allâh itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” [Luqmân/31:6]

Menurut para Ulama ahli tafsir (mufassirin) dari kalangan Sahabat dan Tabi’in bahwa yang dimaksud membeli lahwal hadîts (perkataan sia-sia) dalam ayat di atas adalah nyanyian, alat-alat musik dan menyewa para biduan atau biduanita.[9]

  • Meramal nasib dengan binatang atau benda

Dianatara kebiasan yang suka dilakukan oleh masyarakat Arab Jahiliyah yaitu menggundi nasib atau meramal nasib dengan suara atau gerakan burung. Umpamanya ada seseorang sakit lalu mereka mendengar burung gagak atau burung hantu berbunyi di malam hari, maka mereka meramal bahwa orang yang sakit tersebut akan meninggal dunia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka untuk meninggalkan budaya tersebut dalam sabdanya:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السلمي قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُمُورًا كُنَّا نَصْنَعُهَا في الْجَاهِلِيَّةِ كُنَّا نأتي الْكُهَّانَ. قَالَ فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ . قَالَ قُلْتُ كُنَّا نَتَطَيَّرُ. قَالَ : ذَاكَ شيء يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ في نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَّنَّكُمْ

Dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulamy, aku berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Wahai Rasûlullâh! Ada beberapa hal yang pernah kami lakukan di masa jahiliyah; kamipernah mendatangi dukun? Jawab Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Jangan kalian mendatangi dukun. Lalu aku berkata lagi: Kami dahulu suka mengundi nasib dengan burung?Jawab Beliau: itu sesuatu yang terbetik dalam hati kalian janganlah menghalangi kalian”. [10]

Dalam riwayat lain, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik[11]

Yang dimaksud dengan Thiyarah yaitu meramal suatu kejadian buruk dengan burung atau lainnya seperti yang telah jelaskan di atas.

BISAKAH ISLAMISASI BUDAYA?

Sebagaimana yang telah kita jelaskan di atas tentang perbedaan antara Islam dengan budaya, maka Islam itu sudah sempurna tidak perlu ditambah dengan budaya lokal. Budaya tetap budaya tidak bisa dijadikan ajaran Islam. Akan tetapi Islam memberikan ruang untuk sebuah kebiasaan atau budaya masyarakat untuk dilakukan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan tidak dianggap sebagai ajaran agama yang wajib dijalankan. Bagi siapa yang mau melakukan silakan menjalankannya asal tidak menjadi alat untuk memecah belah persatuan kaum Muslimin. Apalagi  menjadi tolak ukur ketakwaan dan menghukum orang yang tidak menjalankannya sebagai kelompok sesat. Seperti kejadian beberapa kasus di berbagai tempat, seorang Muslim yang meninggal dilarang dikuburkan di pemakaman umum karena tidak ikut yasinan dan tahlilan! Beberapa pondok pesantren dibakar dan diusir santrinya karena tidak melaksanakan maulidandan salawatan! Ini menunjukkan sebuah penyimpangan dalam pemahaman beragama terutama masyarakat yang diasuh oleh agen-agen Islam Nusantara. Sebaliknya, kita tidak pernah melihat atau mendengar pengusiran bagi orang yang tidak shalat, yang tidak berhijab dan bahkan terang-terangan berbuat maksiat di depan umum. Seakan-akan kedudukan budaya lebih tinggi dari hal-hal yang diwajibkan Allâh Azza wa Jalla . Jangankan apa yang disebut sebagai bid’ah hasanah, orang yang tidak melaksanakan sunnah muakkadah saja tidak berhak diusir, bahkan orang yang meninggalkan hal yang wajib sekalipun juga tidak berhak diusir! Silakan anda renungkan kenapa sikap radikal seperti ini terjadi terhadap orang yang tidak suka budaya, tapi tidak diberlakukan terhadap orang yang tidak suka pada agama? Sungguh aneh alias ajiib.

KENAPA JAZIRAH ARAB TERPILIH MENJADI TEMPAT DITURUNKANNYA ISLAM, MENGAPA TIDAK DI INDONESIA?

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menjadikan makhluknya dalam aturan yang sempurna di atas segala kesempurnaan. Allâh Azza wa Jalla tidak memilih dan menentukan sebuah keputusan yang sia-sia, akan tetapi berdasarkan ilmu-Nya yang Maha Sempurna dan dibalik ketentuan tersebut tersimpan berjuta-juta hikmah.

Allâh Azza wa Jalla melebihkan satu makhluk atas makhluk yang lain, bumi dijadikan berlembah dan berbukit, sebagian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga Allâh Azza wa Jalla beri kelebihan atas Nabi yang lain.

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖوَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allâh berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allâh meninggikannya beberapa derajat. [Al-Baqarah/2:253]

Sebagaimana surat dan ayat al-Qur’an juga berbeda dari sisi kelebihan dan keutamaan. Demikian pula suatu tempat dan bangsa juga Allâh Azza wa Jalla beri kelebihan atas tempat dan bangsa yang lain. Maka Allâh Azza wa Jalla memuliakan bumi Mekah atas belahan bumi yang lain, memilih bangsa Arab untuk Nabi yang terakhir walau sebelumnya kebanyakan Nabi berasal dari bangsa Bani Israil.

Bumi Mekah memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh belahan bumi lain, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ تَعَالَى إِلَى اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ تَعَالَى إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

Demi Allâh! Sesungguhnya engkau (negeri Mekah) adalah sebaik-baik bumi Allâh, dan bumi yang paling dicintai Allâh, seandanya aku tidak diusir darimu niscaya aku tidak akan keluar darimu[12]

Allâh Azza wa Jalla telah memilih sebagai pembawa risalah yang terakhir dari negeri yang paling mulia juga dari keturunan yang paling mulia. Sebagaimana Firman Allâh:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Allâh memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allâh Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Al-Hajj/22:75]

Dan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِى هَاشِمٍ

Sesungguhnya Allâh telah memilih Kinânah dari keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinaanah, dan dari suku Quraisy memilih Bani Hasyim,  dan memilih aku dari suku Bani Hasyim.[13]

Berkata Ibnu Mas’ud Radhiyallah anhu :

إِنَّ اللَّهَ عز وجل نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَوَجَدَ أَصْحَابَهُ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ

Sesungguhnya Allâh melihat kepada hati-hati manusia, maka Allâh mendapati hati Muhammad sebaik-baik hati manusia. Maka Allâh memilihnya secara khusus dan mengutusnya untuk membawa risalah-Nya. Kemudian Allâh melihat hati manusia setelah hati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Allâh mendapati hati para Sahabatnya  sebaik-baiknya hati manusia, maka Allâh menjadikan mereka sebagai pembantu nabi-Nya, berperang membela agamanya.[14]

Semua itu kembali kepada kehendak Allâh Azza wa Jalla secara mutlak, kita tidak berhak mempertanyakan perbuatan Allâh Azza wa Jalla , akan tetapi kitalah yang akan ditanya tentang perbuatan kita.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. [Al-Anbiyâ/21:23]

Dan firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Sesungguhnya Allâh berbuat apa yang Dia kehendaki. [Al-Hajj/22:14]

Dan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Dan barangsiapa dihinakan Allâh maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allâh berbuat apa yang Dia kehendaki.” [Al-Hajj/22:18]

Orang-orang kafir Mekah pernah mempertanyakan: kenapa Allâh Azza wa Jalla tidak mengutus orang lain selain nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Allâh menjawab keberatan mereka: apakah mereka yang akan mengatur pembagian rahmat Allâh?

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ﴿٣١﴾ أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَا

Dan mereka berkata, “Mengapa alQuran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?” Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, [Az-Zukhruf/43:31-32]

KESIMPULAN

  1. Budaya adalah hasil karya akal dan pengalaman manusia yang punya banyak sisi kelemahan, kebenarannya relatif.
  2. Budaya yang berjalan dan berlaku di tengah-tengah masyarakat bisa diterima dalam Islam selama tidak melanggar prinsip-prinsip ajaran Islam.
  3. Islam bukan budaya Arab, akan tetapi Islam adalah agama Allâh Azza wa Jalla yang sempurna, diturunkan untuk semua suku bangsa dan berlaku untuk sepanjang masa serta cocok pada setiap tempat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat al Mausû’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, 30/53

[2] Lihat  Qâ’idah al ‘Âdah Muhakkamah, Ya’qûb bin Abd Wahab,  hlm. 27

[3] Lihat Qâ’idah al ‘Âdah Muhakkamah, Ya’qub bin Abd Wahab, hlm. 49

[4] Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya).

[5] Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya#Definisi_Budaya

[6] Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya#Definisi_Budaya

[7] HR. Muslim

[8] Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, 3/405.

[9] Lihat, Tafsir Ibnu katsir, 6/331.

[10] HR. Muslim

[11] HR. Abu Daud. Dishahihkan syaikh al-Albani

[12] HR. Tirmidzi. Dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullah

[13] HR. Muslim

[14] HR.Ahmad. Dan Berkata al-Arnauth : “Sanadnya hasan”

💌 LA TAHZAN INNALLAHA MA’ANA🌹

Ya Allah

{Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.}

(QS. Ar-Rahman: 29)

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru: “Ya Allah!”

Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, mereka akan menyeru: “Ya Allah!”

Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru: “Ya Allah!”

Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir permohonan digeraikan, orang-orang mendesah: “Ya Allah!” Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru: “Ya Allah!”

Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah:”Ya Allah!”

Kuingat Engkau saat alam begitu gelap gulita, dan wajah zaman berlumuran debu hitam Kusebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang, dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah

Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-Nya.

Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan, julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke arahNya untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain hanya untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-Nya. Dengan begitu, hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi menegang, dan iman kembali berkobar-kobar. Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-Nya, keyakinan akan semakin kokoh. Karena,

{Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.}

(QS. Asy-Syura: 19)

Allah: nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling indah, ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga. {Apakah kamu tahu ada seseorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?}

(QS. Maryam: 65)

Allah: milik-Nya semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, kemuliaan, kemampuan, dan hikmah.

{Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.}

(QS. Ghafir: 16)

Allah: dari-Nya semua kasih sayang, perhatian, pertolongan, bantuan, cinta dan kebaikan.

{Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lab. (datangnya).}

(QS. An-Nahl: 53)

Allah: pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan.

<p>Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf, Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna, akan lebur, mencair, di tengah keagungan-Mu, wahai Rabku

Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.

Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam ini rasa kantuk dari-Mu yang menentramkan. Tuangkan dalam jiwa yang bergolak ini kedamaian. Dan, ganjarlah dengan kemenangan yang nyata. Wahai Rabb, tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu. Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus. Dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu merapat ke hidayahMu.

Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-Mu.

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua.

Kami berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera. Hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal. Hanya kepada-Mu kami memohon, dan hanya dari-Mu lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

</p

ANAK PEREMPUAN MEMBERIKAN AiB?



ANAK PEREMPUAN MEMBERIKAN AIB?


Pada hakikatnya perbedaan pandangan al-Qur`an dan Taurat terhadap perempuan dimulai sejak lahirnya perempuan. Sebagai contoh, dikatakan dalam Injil bahwasanya masa tidak bersihnya ibu setelah melahirkan anak perempuan adalah selama (dua minggu), sedangkan masa tidak bersihnya ibu setelah melahirkan anak laki-laki adalah (tujuh hari saja). Artinya, masa keadaan tidak bersih setelah melahirkan anak perempuan adalah “berlipat ganda” waktunya dibandingkan setelah melahirkan anak laki-laki. (Laawien 12:2 -5).


Maka Injil orang-orang Katolik mengatakan dengan sejelas-jelasnya: “Sesungguhnya kelahiran seorang anak perempuan adalah suatu kerugian”. (Ecclesiasticus 22:3). Di mana di sisi lain Injil memuji laki-laki: “Suami yang mengetahui anaknya laki-laki maka akan membuat iri musuh-musuhnya”. (Ecclesiasticus 30:3). Salah seorang pendeta Yahudi memerintahkan orang Yahudi agar memperbanyak keturunan supaya jumlah mereka bertambah, akan tetapi mereka lebih mengutamakan keturunan laki-laki: “Sesungguhnya lebih baik jika kalian mempunyai keturunan laki-laki, dan akan buruk jika kalian mempunyai keturunan perempuan”, “ketika bayi laki-laki lahir diberikan kesalamatan di atas bumi, akan tetapi ketika lahir seorang perempuan maka tidak diberi sesuatu apapun”. 7

Maka anak perempuan diibaratkan beban yang berat dan sumber kesedihan bagi ayahnya: “Jika ada anak perempuanmu pembangkang maka berhati-hatilah para musuhmu akan menertawakanmu dan akan menjadi titik pembicaraan orang-orang kota dan obrolan, dan kamu akan memperoleh aib (celaan)”. (Ecclesiasticus 41:11).

“Wajib bagi kamu keras terhadap perempuan yang pembangkang, jika tidak dia akan mengambil manfaat atas sifat lemah lembutmu terhadapnya dan kau terus menerus dalam kesalahan, jadilah orang yang tegas dan jangan kamu heran jika dia mendatangkan aib untukmu”. (Ecclesiasticus 26:10-11).

Dan hal ini juga yang terjadi di kalangan Arab orang-orang kafir, sebelum Islam muncul, mereka mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan.

Al-Qur`an telah memberikan hukuman dengan keras perbuatan yang tercela ini :


“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya, apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”. (QS. An-Nahl: 58-59).

Seandainya al-Qur`an tidak mengharamkan perbuatan yang keji ini, maka akan berlangsung secara terus menerus sampai sekarang, karena al-Qur`an tidak membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Dan hal ini bertolak belakang dengan apa yang disebutkan dalam Injil. Karena al-Qur`an menyebutkan lahirnya seorang perempuan adalah nikmat dan pemberian dari sisi Allah Swt. bandingannya sama dengan lahirnya anak laki-laki (tanpa ada perbedaan di antara keduanya), dan telah disebutkan nikmat lahirnya anak perempuan dalam al-Qur`an terlebih dahulu :

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki”. (QS. Asy-Syuura: 49).

Dan dalam larangan untuk mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup secara sempurna, Rasulullah Saw telah menjanjikan kepada siapa saja yang dikarunia anak perempuan dan dia mendidiknya dengan baik, dia akan memperoleh pahala yang besar. Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa diberikan cobaan dengan dikaruniai anak-anak perempuan lalu dia mendidiknya dengan baik maka mereka (anak-anak perempuan) akan menjadi pelindung baginya dari api neraka”. Dan sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa mendidik dua anak perempuannya sampai keduanya dewasa maka akan datang pada hari kiamat saya dan dia”, dan Rasulullah menempelkan dua jarinya (secara berdampingan).

PEREMPUAN YANG HAIDPEREMPUAN YANG HAID MENGOTORI SEKITARNYA?Sesungguhnya undang-undang dan hukum-hukum orang Yahudi sangat keras terhadap perempuan yang haid. Kitab Perjanjian Lama mengatakan perempuan yang haid itu kotor dan juga mengotori sekitarnya, atau siapa saja yang memenyentuhnya maka dia akan senantiasa kotor satu hari penuh. “Jika perempuan mengalami pendarahan dan pendarahannya tersebut darah pada dagingnya (farajnya) maka tujuh hari dia akan merasakan haid dan setiap orang yang menyentuhnya akan bernajis sampai sore, dan setiap tempat dia berbaring pada waktu dia haid akan terkotori (bernajis), dan setiap yang dia duduki akan ikut bernajis, dan setiap orang yang menyentuh tempat tidurnya harus mencuci bajunya dan mandi, dan dia akan bernajis sampai sore, dan setiap orang yang menyentuh barang-barang yang dia tempati duduk harus mencuci pakaiannya dan mandi dan dia akan bernajis sampai sore, dan tempat tidur yang pernah dia pakai tidur dan barang-barang yang pernah dia duduk di atasnya ketika disentuh setiap barang-barang tersebut akan bernajis sampai sore”. (Lawien 15: 19-23).Disebabkan hal ini, maka perempuan yang haid terkadang disingkirkan untuk menjauhkan orang berinteraksi dengannya. Maka dia diasingkan (dikirim) ke rumah yang dinamakan “Rumah Kotor” selama dia haid. 9 Sedangkan Talmuud mengibaratkan perempuan yang haid sebagai pembunuh, agar dia tidak menyentuh siapapun. Seorang pendeta berkata:”Jika seorang perempuan yang haid lewat di depan dua orang laki-laki pada permulaan masa haidnya maka seolah-olah akan mati kedua laki-laki tersebut karenanya. Dan jika dia lewat pada akhir masa haidnya dia akan menyebabkan perselisihan di antara keduanya”. (Bpes. 111 a).Dan suami perempuan yang haid dilarang untuk masuk Sinagog (rumah ibadah kaum Yahudi) karena suami tersebut telah terkotori hingga tanah yang dilewati oleh isterinya. Santo (pendeta atau orang suci) yang isterinya atau anak perempuannya atau ibunya sedang haid tidak di perbolehkan bagi dia untuk menyampaikan khutbah di Sinagog (rumah ibadah kaum Yahudi).10 Oleh karena itu, masih senantiasa sebagian perempuan-perempuan Yahudi mengistilahkan haid adalah “laknat”. 11Adapun dalam Islam, dia tidak mengibaratkan perempuan yang sedang haid mengotori atau mencemari lingkungan sekitarnya. Dan haid bukanlah laknat bagi perempuan. Bahkan diharuskan bagi perempuan yang sedang haid untuk menjalani kehidupan kesahariannya seperti hari-hari yang lain (secara normal), selain melakukan ibadah-ibadah seperti puasa dan shalat.